1. Apa itu Hoax?
Kata hoax sendiri muncul pertama kali dari sebuah film yang berjudul the hoax. The Hoax adalah sebuah film drama Amerika 2006 yang disutradarai oleh Lasse Hallstrom yang diskenario oleh William Wheeler. Film ini dibuat berdasarkan buku dengan judul yang sama oleh Clifford Irving dan berfokus pada biografi Irving sendiri,serta Howard Hughes yang dianggap membantu
Clifford Irving. Banyak kejadian yang diuraikan Irving dalam bukunya yang diubah atau dihilangkan dari film, dan penulis kemudian berkata, saya dipekerjakan oleh produser sebagai penasihat teknis film tapi setelah membaca naskah terakhir saya meminta agar nama saya dihapus dari film itu, ungkin disebabkan karna plot naskah tak sesuai dengan novel aslinya. Sejak itu, film hoax dianggap sebagai film yang banyak mengandung kebohongan, sehingga kemudian banyak kalangan terutama para netter yang menggunakan istilah hoax untuk menggambarkan suatu kebohongan, lambat laun, penggunaan kata hoax di kalangan netter makin gencar. Bahkan digunakan oleh netter di hampir seluruh belahan dunia, termasuk Indonesia (Jingga,http: //www .mediainonesia.com/news, 01 Agustus 2012 diunduh 13 Pebruari 2017).
Maka pada dasarnya hoax adalah suatu kejadian yang dibuat-buat, dengan kata lain hanyalah karangan belaka. Hoax biasanya diartikan sebagai berita bohong, atau tidak sesuai dengan kenyataan. karena kurangnya informasi, pengetahuan, akhirnya digembor-gemborkan, seolah-olah informasi itu benar,padahal tidak benar. Penyebaran hoaxdi media sosial Indonesia, mulai marak sejak media sosial populer digunakan oleh masyarakat Indonesia. Ini disebabkan sifat dari media sosial yang memungkinkan akun anonim untuk berkontribusi, juga setiap orang, tidak peduli latar belakangnya, punya kesempatan yang sama untuk menulis. Beberapa orang yang tidak bertanggungjawab, menggunakan celah ini untuk menggunakan media sosial dalam konteks negatif, yaitu menyebarkan fitnah, hasut dan hoax.
2. Pembahasan Hoax
Kemunculan media sosial bukan saja menjadi sarana yang mudah untuk menghubungkan antar manusia, namun juga mengakibatkan semakin mudah tersebarnya informasi palsu (hoax). Masalah persebaran informasi palsu (hoax) di media sosial melalui media sosial mungkin belum pernah sepenuhnya dibayangkan oleh para pakar teknologi informasi dan komunikasi, karena pada awalnya kemunculan media sosial dimaksudkan untuk mempermudah komunikasi antar manusia di berbagai belahan dunia. Dari sudut pandang sosiologis keberadaan media sosial terutama kemunculannya telah mempengaruhi tata cara manusia berkomunikasi, bersosialisasi, berteman, dan berinteraksi.
Berdasarkan konsep sosiologi yang memandang masyarakat sebagai kelompok manusia yang menghasilkan kebudayaan yang berkaitan dengan perkembangan peradaban masyarakat, dalam konteks merebaknya persebaran hoax, masyarakat dapat mengalami kemunduran moral yang dapat membahayakan peradaban khususnya bagi masa depan generasi muda. Masa depan apa yang akan didapatkan oleh anak-anak dan remaja yang sejak kecil telah menyaksikan bahkan mengakses dan mempercayai keberadaan informasi palsu (hoax)? Edukasi berperan dalam mengembangkan literasi media melalui aktivitas yang menekankan pada aspek mensosialisasikan bagaimana cara mengakses, memilih program yang bermanfaat dan sesuai kebutuhan yang lebih menjadi prioritas dalam memecahkan kehidupan dalam keseharian. Permasalahannya yang menjadi tantangan adalah seiring dengan derasnya arus informasi media, masyarakat pun dibuat kebingungan dan tidak mampu memilah, menyeleksi, serta memanfaatkan informasi yang sudah mereka peroleh.
Berdasarkan konsep sosiologi yang memandang masyarakat sebagai kelompok manusia yang menghasilkan kebudayaan yang berkaitan dengan perkembangan peradaban masyarakat, dalam konteks merebaknya persebaran hoax, masyarakat dapat mengalami kemunduran moral yang dapat membahayakan peradaban khususnya bagi masa depan generasi muda. Masa depan apa yang akan didapatkan oleh anak-anak dan remaja yang sejak kecil telah menyaksikan bahkan mengakses dan mempercayai keberadaan informasi palsu (hoax)? Edukasi berperan dalam mengembangkan literasi media melalui aktivitas yang menekankan pada aspek mensosialisasikan bagaimana cara mengakses, memilih program yang bermanfaat dan sesuai kebutuhan yang lebih menjadi prioritas dalam memecahkan kehidupan dalam keseharian. Permasalahannya yang menjadi tantangan adalah seiring dengan derasnya arus informasi media, masyarakat pun dibuat kebingungan dan tidak mampu memilah, menyeleksi, serta memanfaatkan informasi yang sudah mereka peroleh.
Menurut pandangan psikologis, ada dua faktor yang dapat menyebabkan seseorang cenderung mudah percaya pada hoax. Orang lebih cenderung percaya hoax jika informasinya sesuai dengan opini atau sikap yang dimiliki (Respati, 2017). Contohnya jika seseorang penganut paham bumi datar memperoleh artikel yang membahas tentang berbagai teori konspirasi mengenai foto satelit maka secara naluri orang tersebut akan mudah percaya karena mendukung teori bumi datar yang diyakininya. Secara alami perasaan positif akan timbul dalam diri seseorang jika opini atau keyakinannya mendapat afirmasi sehingga cenderung tidak akan mempedulikan apakah informasi yang diterimanya benar dan bahkan mudah saja bagi mereka untuk menyebarkan kembali informasi tersebut. Hal ini dapat diperparah jika si penyebar hoax memiliki pengetahuan yang kurang dalam memanfaatkan internet guna mencari informasi lebih dalam atau sekadar untuk cek dan ricek fakta.
Terdapat empat mode dalam kegiatan penemuan informasi melalui internet, diantaranya adalah:
- Undirected viewing
Pada undirected viewing, seseorang mencari informasi tanpa tahu informasi tertentu dalam pikirannya. Tujuan keseluruhan adalah untuk mencari informasi secara luas dan sebanyak mungkin dari beragam sumber informasi yang digunakan, dan informasi yang didapatkan kemudian disaring sesuai dengan keinginannya.
Conditioned viewing
Pada conditioned viewing, seseorang sudah mengetahui akan apa yang dicari, sudah mengetahui topik informasi yang jelas, Pencarian informasinya sudah mulai terarah.
- Informal search
Mode informal search, seseorang telah mempunyai pengetahuan tentang topik yang akan dicari. Sehingga pencarian informasi melalui internet hanya untuk menambah pengetahuan dan pemahaman tentang topik tersebut. Dalam tipe ini pencari informasi sudah mengetahui batasan-batasan sejauh mana seseorang tersebut akan melakukan penelusuran. Namun dalam penelusuran ini, seseorang membatasi pada usaha dan waktu yang ia gunakan karena pada dasarnya, penelusuran yang dilakukan hanya bertujuan untuk menentukan adanya tindakan atau respon terhadap kebutuhannya.
- Formal search
Pada formal search, seseorang mempersiapkan waktu dan usaha untuk menelusur informasi atau topik tertentu secara khusus sesuai dengan kebutuhannya. Penelusuran ini bersifat formal karena dilakukan dengan menggunakan metode-metode tertentu. Tujuan penelusuran adalah untuk memperoleh informasi secara detail guna memperoleh solusi atau keputusan dari sebuah permasalahan yang dihadapi (Choo, Detlor, & Turnbull, 1999).
Perilaku penyebaran hoax melalui internet sangat dipengaruhi oleh pembuat berita baik itu individu maupun berkelompok, dari yang berpendidikan rendah sampai yang tinggi, dan terstruktur rapi. (Lazonder, Biemans, & Wopereis, 2000) menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antara seseorang yang memiliki keahlian khusus dalam menggunakan search engine dengan orang yang masih baru atau awam dalam menggunakan search engine. Mereka dibedakan oleh pengalaman yang dimiliki. Individu yang memiliki pengalaman lebih banyak dalam memanfaatkan search engine, akan cenderung lebih sistematis dalam melakukan penelusuran dibandingkan dengan yang masih minim pengalaman (novice).
Berita hoax semakin sulit dibendung walaupun sampai dengan 2016 pemerintah telah memblokir 700 ribu situs, namun setiap harinya pula berita hoax terus bermunculan. Pada Januari 2017 pemerintah melakukan pemblokiran terhadap 11 situs yang mengandung konten negatif, namun kasus pemblokiran tersebut tidak sampai menyentuh meja hijau. Beberapa kasus di indonesia terkait berita hoax telah memakan korban, salah satunya berita hoax akan penculikan anak yang telah tersebar di beberapa media sosial dan menyebabkan orang semakin waspada terhadap orang asing.
3. Contoh Hoax
Beberapa tahun lalu sempat medengar berita bahwa Hacker sudah mulai memasuki beberapa sosial media seperti : Whatsapp, Facebook, dan lain sebagainya. Berita itu tidak dibenarkan karena beberapa developer aplikasi sosial media tersebut telah membuat sistem keamanan yang sangat ketat untuk kenyamanan para penggunanya. Meskipun terkadang ada sedikit celah/ bug program, tetapi para developer akan langsung membenahinya. Berita Hacker sudah mulai memasuki sosial media itu hanya untuk menakut-nakuti para penggunanya saja. Sebenarnya Hacker itu hanya membuat halaman yang semirip mungkin dengan interface aplikasi sosial media itu lalu mengirim tautan atau kegiatan lain sehingga pemilik akun tersebut bisa terjebak di dalamnya. Sehingga si Hacker pembuat akun palsu tersebut memiliki akses dari pengguna yang telah terjebak tadi. Nah disinilah letak permasalahannya. Sebenarnya yang memeberi akses si Hacker masuk ke akun mereka adalah mereka sendiri. Bukan si Hacker yang mencoba masuk ke Server aplikasi
REFERENSI
Ali, Mukti, dkk. 2017. MELAWAN HOAX di Media social. Yogyakarta: Trustmedia Publising.
Juliswara, Vibriza. 2017. Mengembangkan Model Literasi Media yang Berkebhinnekaan dalam Menganalisis Informasi Berita Palsu (Hoax) di Media Sosial. Jurnal Pemikiran Sosiologi Volume 4 No. 2 , Agustus. Diambil dari: https://jurnal.ugm.ac.id/jps/article/download/28586/pdf (16 Oktober 2018)
Abner, dkk. 2017. PENYALAHGUNAAN INFORMASI/BERITA HOAX DI MEDIA SOSIAL. Diambil dari: https://mti.binus.ac.id/2017/07/03/penyalahgunaan-informasiberita-hoax-di-media-sosial/ (16 Oktober 2018)
KUIS HOAX
Reviewed by suci
on
Oktober 16, 2018
Rating:
Reviewed by suci
on
Oktober 16, 2018
Rating:

Tidak ada komentar: